1. Ketidakpastian Politik Memicu Guncangan Pasar
Gelombang demonstrasi besar yang terjadi di berbagai kota Indonesia dalam beberapa hari terakhir memberi dampak langsung ke pasar keuangan. Investor asing maupun domestik merespons negatif terhadap meningkatnya ketidakpastian politik.
Indeks saham gabungan (IHSG) turun lebih dari 2% pada akhir perdagangan 29 Agustus 2025. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah hampir 1% terhadap dolar AS, menembus level terendah dalam sebulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar menilai risiko politik meningkat signifikan.
2. Rupiah & Inflasi: Risiko Importasi Meningkat
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi, pangan, dan bahan baku industri. Jika situasi tidak segera stabil, Indonesia bisa menghadapi tekanan inflasi pada kuartal keempat 2025.
Bank Indonesia (BI) sudah mulai melakukan intervensi ganda di pasar valuta asing dan obligasi negara untuk menahan pelemahan rupiah. Namun langkah ini hanya efektif jangka pendek jika stabilitas politik belum terjamin.
3. Sektor Riil: Konsumsi & Investasi Tertahan
Selain pasar keuangan, sektor riil juga berpotensi terganggu:
-
Konsumsi masyarakat: Aksi massa yang meluas menimbulkan ketidakpastian mobilitas, berpotensi menurunkan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama PDB.
-
Investasi swasta: Sentimen investor terhadap iklim usaha bisa terganggu. Penundaan proyek dan hengkangnya modal asing merupakan risiko nyata bila konflik sosial berlarut.
-
Pariwisata: Padahal pemerintah baru saja meluncurkan aplikasi “All-Indonesia” untuk mempermudah wisatawan mancanegara. Kerusuhan bisa mengurangi minat turis berkunjung.
4. Respons Pemerintah & Sinyal ke Pasar
Presiden Prabowo telah menyampaikan duka atas insiden yang memicu kerusuhan dan memerintahkan investigasi menyeluruh. Bagi pasar, langkah pemerintah untuk merespons dengan cepat, transparan, dan terukur akan menjadi kunci pemulihan kepercayaan investor.
Jika pemerintah berhasil menekan eskalasi sosial, rupiah dan IHSG berpotensi rebound. Sebaliknya, bila aksi terus meluas tanpa solusi politik, risiko capital outflow (keluarnya dana asing) semakin besar.
5. Prospek Ekonomi Jangka Pendek
-
Optimistis: Jika stabilitas politik cepat pulih, ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh sesuai target pemerintah sekitar 5% di 2025.
-
Pesimistis: Jika konflik sosial berlanjut, pertumbuhan bisa melambat ke kisaran 4% atau lebih rendah, dengan inflasi di atas target BI (3±1%).
Kesimpulan
Situasi Indonesia saat ini menunjukkan betapa erat kaitan antara politik dan ekonomi. Ketidakpastian sosial mampu mengguncang pasar hanya dalam hitungan hari. Stabilitas politik menjadi prasyarat utama agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Investor dan pelaku usaha kini menunggu langkah nyata pemerintah untuk memastikan bahwa gejolak politik tidak berubah menjadi krisis ekonomi.



